iklan

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Gubernur Melki Laka Lena Panen Raya Jagung di SBD, Komitmen Perkuat Swasembada Pangan

200
panen jagung di SBD
Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, memimpin panen raya jagung di Kampung Ikit, Desa Hameli Ate, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya, Jumat (3/7/2026). (Foto: Biro Adpim Setda Provinsi NTT)
  • Bagikan

“Saya selalu senang datang ke tengah-tengah para petani dan melihat hasil pertanian yang melimpah. Bayangkan kalau tidak ada petani, kita mau makan beras dan jagung dari mana? Petani adalah profesi yang sangat mulia. Karena itu, berbanggalah menjadi petani,” ujar Melki.

Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh petani atas dedikasi mereka dalam menjaga produktivitas pertanian yang menjadi salah satu penopang utama ketahanan pangan di NTT.

Scroll kebawah untuk lihat konten
iklan
Mau usaha anda di lihat ribuan orang?  Klik Disini!!!

Sumba Barat Daya jadi Sentra Jagung NTT

Berdasarkan data Dinas Pertanian Provinsi NTT, Kabupaten Sumba Barat Daya merupakan salah satu sentra produksi jagung terbesar di provinsi ini.

Pada Musim Tanam I (Oktober 2025–Maret 2026) dan Musim Tanam II (April–Juni 2026), luas tanam jagung di daerah tersebut mencapai 36.393 hektare, dengan 8.260 hektare di antaranya berada di Kecamatan Kodi Utara.

Baca Juga:
Pemkab SBD Perkuat Sinergi Lintas Sektor Lewat Rakor GTRA 2026, Targetkan Pengentasan Kemiskinan

Menurut Gubernur, capaian tersebut menunjukkan besarnya kontribusi Sumba Barat Daya terhadap target swasembada pangan nasional.

“Dari total sekitar 36 ribu hektare lahan jagung di Kabupaten Sumba Barat Daya, lebih dari 8 ribu hektare berada di wilayah ini. Ini luar biasa. Produktivitas yang sudah baik harus terus kita jaga dan tingkatkan,” katanya.

Baca Juga:
Bupati Yohanis Dade Hadiri HUT Ke-41 RSUD Waikabubak, Akreditasi Paripurna Jadi Modal Tingkatkan Pelayanan

Pemprov Siapkan Solusi untuk Keluhan Petani

Dalam dialog bersama petani, Gubernur menerima berbagai aspirasi terkait kendala yang masih dihadapi di lapangan, mulai dari keterbatasan pupuk bersubsidi, kebutuhan benih unggul, hingga minimnya sarana pascapanen seperti mesin pengering dan mesin perontok jagung.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatSumba.ID

+ Gabung

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *