iklan

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

WALHI NTT Soroti Tambak Udang 2.000 Hektar di Sumba Timur: Ancam Sabana hingga Krisis Air Bersih

200
Divisi Hukum WALHI NTT , Yulianto Behar Nggali Mara
Divisi Hukum WALHI NTT , Yulianto Behar Nggali Mara. (Foto: Dok. Istimewa/RakyatSumba.ID)
  • Bagikan

Waingapu, RakyatSumba.ID – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Nusa Tenggara Timur (NTT) menyoroti rencana pembangunan tambak udang skala besar di Kabupaten Sumba Timur yang dinilai mengancam keselamatan ekologis dan ruang hidup masyarakat.

Proyek tambak udang tersebut direncanakan mencakup luasan sekitar 2.000 hingga 2.150 hektar di Desa Palakahembi dan Kelurahan Watumbaka, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur.

Scroll kebawah untuk lihat konten
iklan
Mau usaha anda di lihat ribuan orang?  Klik Disini!!!

WALHI NTT menilai proyek itu bukan sekadar pembangunan biasa, melainkan ekspansi industri berskala besar yang berpotensi mengubah bentang alam sabana di Sumba Timur secara permanen.

“Proyek tambak udang skala besar di Sumba Timur ini memperlihatkan bagaimana kepentingan investasi kembali ditempatkan di atas keselamatan rakyat dan lingkungan,” tegas Divisi Hukum WALHI NTT, Yulianto Behar Nggali Mara, dalam keterangannya, Jumat (15/5/2026).

Menurut WALHI NTT, sabana di Sumba bukanlah lahan kosong yang bebas dialihfungsikan. Kawasan tersebut memiliki fungsi ekologis penting, mulai dari menyimpan karbon, menjaga keseimbangan tata air, melindungi struktur tanah, hingga menjadi habitat berbagai flora dan fauna.

Selain itu, sabana juga menjadi ruang hidup masyarakat untuk menggembalakan ternak serta mempertahankan tradisi budaya secara turun-temurun.

Baca Juga:
Bupati Yohanis Dade Hadiri HUT Ke-41 RSUD Waikabubak, Akreditasi Paripurna Jadi Modal Tingkatkan Pelayanan

WALHI NTT menegaskan, kerusakan lebih dari 2.000 hektar sabana dikhawatirkan memicu dampak ekologis jangka panjang yang sulit dipulihkan.

Tak hanya itu, lokasi proyek disebut berada sekitar 700 meter dari permukiman warga. Kedekatan tersebut dinilai berpotensi memicu gangguan terhadap kualitas hidup masyarakat akibat limbah tambak, pencemaran udara, bau menyengat, hingga ancaman terhadap sumber air bersih.

“Ketika lingkungan rusak, sumber air tercemar, dan ruang hidup masyarakat hilang, maka masyarakat lokal justru menjadi pihak yang paling menanggung beban,” ujar Yulianto.

WALHI NTT juga menyoroti keberadaan proyek di bentang alam karst yang selama ini berfungsi sebagai penyimpan cadangan air alami. Kerusakan kawasan karst disebut dapat mengganggu sistem hidrologi dan memperbesar risiko krisis air bersih di wilayah yang rentan kekeringan seperti Sumba Timur.

Selain ancaman terhadap sumber air, pembukaan lahan dalam skala besar juga disebut berpotensi meningkatkan kadar garam tanah, merusak kesuburan alami, hingga menghilangkan kemampuan ekosistem dalam menyerap air.

Dalam pernyataannya, WALHI NTT menilai klaim penciptaan lapangan kerja dari proyek tersebut hanya menjadi narasi yang kerap digunakan dalam proyek industri skala besar.

Mereka menyebut manfaat ekonomi lebih banyak dinikmati investor, sementara masyarakat lokal berisiko kehilangan sumber penghidupan tradisional dan menghadapi kerusakan lingkungan berkepanjangan.

Atas dasar itu, WALHI NTT mendesak pemerintah melakukan kajian lingkungan hidup yang independen, transparan, dan melibatkan masyarakat secara penuh.

Baca Juga:
Pemkab SBD Gelar Upacara Hari Lahir Pancasila 2026, Sekda Tekankan Pancasila sebagai Jangkar Moral Bangsa

Selain itu, WALHI NTT meminta pemerintah memastikan perlindungan kawasan sabana dan bentang alam karst di Sumba Timur serta mendorong model pembangunan berbasis komunitas yang tidak merusak lingkungan.

“Kesejahteraan tidak dapat dibangun di atas kehancuran lingkungan,” tutup Yulianto. (*/rs1)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatSumba.ID

+ Gabung

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *