iklan

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Sidang Sinode GKS Ke-44 Tegaskan Komitmen Green Church, Soroti Tambang, Kemiskinan, AI, hingga Krisis Kemanusiaan Global

200
1009641260
Ketua Umum Sinode GKS, Pdt Marlin Lomi. (Foto: Dok. Ist)
  • Bagikan

Waingapu, RakyatSumba.ID – Gereja Kristen Sumba (GKS) menegaskan komitmennya membangun gerakan Green Church atau Gereja Hijau sebagai respons atas berbagai krisis yang dihadapi masyarakat, mulai dari ancaman kerusakan lingkungan, kemiskinan, kekerasan terhadap perempuan dan anak, hingga dampak perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI).

Komitmen tersebut tertuang dalam Pesan Sidang Sinode GKS Ke-44 yang dihasilkan dalam persidangan di GKS Jemaat Nggongi, Klasis Mahu Karera, Kabupaten Sumba Timur, pada 2-10 Juli 2026.

Scroll kebawah untuk lihat konten
iklan
Mau usaha anda di lihat ribuan orang?  Klik Disini!!!

Dokumen yang ditetapkan pada 7 Juli 2026 itu memuat sikap teologis sekaligus seruan profetis gereja terhadap berbagai persoalan strategis di Pulau Sumba, Indonesia, hingga dunia.

Ketua Umum Sinode GKS, Pdt Marlin Lomi, mengatakan gereja memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan suara kenabian di tengah berbagai krisis yang mengancam kehidupan manusia dan keutuhan ciptaan.

“Dari Nggongi, gereja menyampaikan seruan kepada jemaat, pemerintah, partai politik, lembaga adat, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama merawat kehidupan serta menjaga masa depan Pulau Sumba,” kata Marlin dalam siaran pers yang diterima, Jumat (10/7/2026).

Sidang Sinode Ke-44 mengangkat tema “Merawat Kehidupan dalam Kasih Kristus” yang diambil dari Mazmur 24:1 dengan subtema “Merawat Bumi sebagai Rumah Bersama, Memperjuangkan Keadilan dan Kebenaran, serta Meneguhkan Nilai-Nilai Budaya dalam Terang Injil.”

Tolak eksploitasi tambang

Dalam Pesan Sidang, GKS memberi perhatian khusus terhadap ancaman eksploitasi sumber daya alam, terutama rencana dan praktik pertambangan emas di Nggongi dan wilayah sekitarnya.

Menurut GKS, aktivitas pertambangan berpotensi mengubah bentang alam secara permanen, mencemari lingkungan, menghilangkan ruang hidup masyarakat, memicu konflik tanah ulayat, serta mengancam keberlanjutan ekologi Pulau Sumba.

“Karena itu, GKS menegaskan bahwa Nggongi bukanlah komoditas ekonomi yang dapat dieksploitasi, melainkan rumah bersama yang merupakan karunia Allah bagi seluruh ciptaan,” ujar Marlin.

Sebagai bentuk komitmen nyata, gereja mendorong seluruh jemaat menjalankan gerakan Green Church melalui penerapan prinsip environmental ethics dan eco-justice. GKS juga menyerukan perlindungan hak-hak masyarakat adat, penolakan privatisasi wilayah pesisir yang meminggirkan warga lokal, serta penguatan kebijakan perlindungan agraria dan pengelolaan sampah secara berkelanjutan.

Soroti kemiskinan hingga kekerasan

Selain isu lingkungan, Sidang Sinode menilai perlindungan terhadap martabat manusia harus menjadi perhatian bersama.

GKS mengajak seluruh elemen masyarakat mengambil langkah nyata untuk mengatasi kemiskinan ekstrem, stunting, dan perdagangan orang, sekaligus menghentikan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Bentuk kekerasan yang disoroti meliputi kekerasan seksual, kawin paksa, kawin tangkap, kekerasan berbasis gender, hingga kekerasan yang terjadi di ruang digital.

Waspadai penyalahgunaan AI dan teknologi digital

Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), juga menjadi perhatian dalam Pesan Sidang.

GKS mengingatkan bahwa teknologi harus dimanfaatkan secara bertanggung jawab untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, bukan menjadi sarana yang merusak kehidupan sosial.

Karena itu, gereja mengajak masyarakat mewaspadai berbagai bentuk penyalahgunaan teknologi, seperti judi online, pinjaman online ilegal, investasi bodong, penipuan digital, dan penyebaran ujaran kebencian yang dinilai dapat mengganggu ketahanan keluarga, gereja, maupun masyarakat.

Tolak feodalisme dan dorong pemerintahan bersih

Dalam bidang sosial budaya, GKS menyatakan penolakannya terhadap praktik feodalisme yang masih membedakan masyarakat ke dalam kelompok maramba dan ata.

Menurut GKS, sistem tersebut bertentangan dengan nilai kesetaraan karena membatasi akses masyarakat terhadap pendidikan, ekonomi, hukum, dan politik.

Gereja mengajak seluruh masyarakat melakukan reposisi budaya Sumba agar semakin memanusiakan manusia, membebaskan, serta menempatkan setiap orang setara sebagai gambar Allah (Imago Dei).

Sidang Sinode juga menyoroti tata kelola pemerintahan yang dinilai masih menghadapi persoalan korupsi, kolusi, nepotisme, dan oligarki.

GKS mendorong penerapan sistem meritokrasi dalam birokrasi, pemerataan pembangunan hingga wilayah pedalaman, serta kebijakan afirmatif bagi sekolah-sekolah swasta, khususnya sekolah Kristen.

Perkuat literasi dan politik yang beretika

Pesan Sidang turut menyoroti rendahnya tingkat literasi anak-anak di Sumba.

GKS mengajak pemerintah, gereja, Yayasan Pendidikan Masehi (YAPMAS), dan seluruh lembaga pendidikan membangun gerakan bersama untuk meningkatkan kemampuan membaca anak sejak usia dini sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia.

Dalam bidang politik, gereja mengajak partai politik dan para politisi mengembalikan politik sebagai sarana memperjuangkan kepentingan umum, bukan sekadar perebutan kekuasaan.

GKS juga menegaskan komitmennya memberikan pendidikan politik kepada warga jemaat agar mampu berpartisipasi secara etis, bersih, dan bertanggung jawab dalam kehidupan demokrasi.

Menutup Pesan Sidang Sinode Ke-44, GKS menyatakan solidaritas kepada masyarakat dunia yang sedang menghadapi peperangan, aneksasi wilayah, dan krisis kemanusiaan.

Melalui dokumen tersebut, gereja menyerukan penghentian segala bentuk kekerasan serta mengajak pemerintah, tokoh agama, lembaga adat, pelaku usaha, dan masyarakat sipil memperkuat kolaborasi demi mewujudkan Sumba yang adil, sejahtera, dan berkelanjutan. (*/rs1)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatSumba.ID

+ Gabung

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *