“Tradisi lisan merupakan perpustakaan hidup masyarakat,” demikian pesan yang ditekankan dalam sambutannya.
Menurutnya, tradisi lisan menyimpan berbagai ingatan kolektif mengenai asal-usul masyarakat, hubungan manusia dengan alam, hubungan antarsesama, serta nilai-nilai kehidupan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, ketika tradisi lisan dituangkan menjadi puisi, masyarakat tidak sekadar menciptakan karya sastra. Proses tersebut juga menjadi cara untuk merekam ingatan, menjaga identitas, merawat bahasa, dan mewariskan kebudayaan.
Tradisi Sumba jadi Inspirasi Penulis dan Penyair
Berbagai tradisi yang hidup di Sumba dinilai memiliki kekayaan nilai yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi para penyair dan penulis.
Tradisi seperti Nyale, Pasola, Wulla Poddu, nyanyian adat, cerita rakyat, hingga narasi leluhur mengandung nilai kebersamaan, penghormatan terhadap alam, spiritualitas, solidaritas, keberanian, serta identitas budaya.
Wakil Bupati berharap kekayaan tersebut tidak berhenti sebagai objek tontonan atau sekadar menjadi agenda tahunan.
Sebaliknya, tradisi dan budaya Sumba diharapkan terus dihidupkan melalui karya sastra, pendidikan, penerbitan buku, media digital, serta berbagai ruang kreatif yang dapat melibatkan generasi muda.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatSumba.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


