Gubernur juga mengajak masyarakat mendukung penerapan Jam Belajar Masyarakat pada pukul 18.00 hingga 19.30 WITA.
Program tersebut diharapkan dapat menciptakan suasana yang lebih kondusif bagi anak-anak untuk belajar sekaligus mendorong keterlibatan keluarga dalam mendukung pendidikan.
Karnaval Budaya jadi Simbol Keberagaman dan Persatuan
Ketua Panitia Pawai Pembangunan dan Karnaval Budaya 2026, Beni Nahak, mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar mempertontonkan kemeriahan budaya, pakaian dan kreativitas masyarakat.
Menurut Kepala Dinas PUPR Provinsi NTT tersebut, pawai menjadi ruang refleksi mengenai identitas, asal-usul dan perjalanan masyarakat NTT sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Pawai pembangunan dan karnaval budaya 2026 hendaknya kita maknai sebagai perjalanan simbolik dari keberagaman menuju persatuan, dari identitas menuju kebersamaan, dari kebersamaan menuju kemajuan,” ungkap Beni.
Ia menegaskan, keberagaman suku, etnis, budaya dan agama yang hidup berdampingan di NTT merupakan kekuatan penting dalam pembangunan daerah.
Karena itu, setiap peserta yang mengikuti iring-iringan pawai membawa pesan mengenai pentingnya persatuan serta pembangunan yang tetap berakar pada manusia dan kebudayaan.
Beri Dampak Ekonomi bagi UMKM
Antusiasme masyarakat yang memadati sepanjang rute pawai juga menunjukkan bahwa kegiatan tersebut telah menjadi salah satu agenda yang dinantikan warga.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatSumba.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
