Oleh: Angela Marici Bulu, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Weetebula
DI tengah perubahan kurikulum yang terus terjadi dari waktu ke waktu, ada satu keyakinan yang diam-diam tumbuh kuat di masyarakat: sekolah dianggap sebagai satu-satunya tempat yang sah untuk belajar.
Akibatnya, pendidikan perlahan mengalami penyempitan makna. Belajar seolah hanya terjadi ketika seseorang mengenakan seragam, duduk di ruang kelas, mencatat pelajaran, lalu mengikuti ujian.
Padahal pendidikan tidak pernah sesempit itu.
Pada hakikatnya, belajar adalah proses manusia membangun pengetahuan, membentuk cara berpikir, dan menempa karakter untuk menghadapi kehidupan. Sekolah memang menjadi salah satu jalur penting dalam proses tersebut, tetapi bukan satu-satunya ruang tempat ilmu tumbuh.
Banyak pelajaran paling berharga justru lahir di luar pagar sekolah.
Seorang anak yang membantu orang tuanya di ladang sedang belajar tentang disiplin dan tanggung jawab. Anak yang mencoba berjualan lalu mengalami kerugian sedang belajar memahami risiko. Anak yang mempelajari keterampilan baru melalui internet sedang melatih kemampuan mencari dan mengolah informasi.
Tidak ada rapor dari pengalaman-pengalaman itu. Tidak ada sertifikat atau nilai akhir.
Namun, ada sesuatu yang jauh lebih penting: kemampuan menghadapi kenyataan.
Di luar ruang kelas, teori dipertemukan dengan situasi nyata. Seseorang belajar bahwa kegagalan bukan angka merah yang bisa diperbaiki melalui remedial, melainkan bagian dari proses bertumbuh.
Pandangan ini sesungguhnya telah lama hadir dalam pemikiran pendidikan Indonesia. Ki Hajar Dewantara pernah mengatakan, “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.”
Kalimat itu mengandung pesan sederhana: pendidikan tidak boleh dimonopoli oleh institusi formal.
Ketika sekolah ditempatkan sebagai satu-satunya sumber ilmu, tanpa sadar kita ikut mempersempit definisi tentang kecerdasan. Pintar akhirnya diukur dari nilai tinggi, peringkat kelas, atau kemampuan menjawab soal.
Padahal kehidupan tidak menyediakan lembar jawaban.
Pelita ilmu sering kali menyala di tempat-tempat yang sederhana. Kita belajar kreativitas dari mekanik di bengkel, belajar ketekunan dari pengrajin mebel, dan belajar keberanian dari mereka yang mampu bangkit setelah mengalami kegagalan.
Mereka mungkin tidak memiliki gelar akademik tinggi, tetapi memiliki kecerdasan hidup yang tidak selalu tercatat dalam sistem.
Sayangnya, tekanan akademik hari ini justru semakin memperkuat anggapan bahwa nilai menentukan masa depan.
Sekolah perlahan berubah menjadi arena persaingan prestasi. Anak-anak didorong mengejar angka, sementara rasa ingin tahu, keberanian mencoba, dan ruang untuk gagal semakin sempit.
Kritik terhadap kondisi ini pernah disampaikan oleh Ivan Illich. Menurutnya, sistem sekolah yang terlalu terstruktur dapat membuat masyarakat percaya bahwa belajar hanya sah jika berlangsung dalam ruang formal.
Ketika itu terjadi, rasa ingin tahu yang alami perlahan digantikan oleh ketakutan untuk salah.
Dampaknya terlihat nyata.
Tidak sedikit lulusan dengan prestasi akademik tinggi yang kebingungan menghadapi dunia kerja dan persoalan kehidupan. Mereka terbiasa mengikuti petunjuk, tetapi kesulitan mengambil keputusan sendiri. Mereka terbiasa mencari jawaban benar, tetapi tidak terbiasa menciptakan solusi.
Lebih jauh lagi, budaya yang terlalu memuja pendidikan formal sering kali melahirkan stigma terhadap anak-anak yang putus sekolah.
Padahal, siapa yang dapat memastikan bahwa pelita mereka telah padam?
Bisa jadi mereka sedang menyalakan cahaya itu di tempat lain di bengkel, di sawah, di ruang kreatif, atau di depan layar komputer sambil membangun kemampuan yang tidak diajarkan di sekolah.
Albert Einstein pernah mengatakan bahwa pendidikan adalah sesuatu yang tersisa setelah seseorang melupakan apa yang dipelajarinya di sekolah.
Yang tertinggal bukan sekadar hafalan.
Yang bertahan adalah karakter, cara berpikir, keberanian menghadapi perubahan, dan kemampuan untuk terus bertumbuh.
Karena itu, Grow Further bukan ajakan meninggalkan sekolah.
Ini adalah ajakan untuk memperluas cara pandang tentang pendidikan.
Sekolah tetap menjadi fondasi penting, tetapi pelita ilmu tidak boleh dikurung di dalam ruang kelas. Ia harus diberi ruang untuk tumbuh lebih jauh di rumah, di lingkungan sosial, di tempat kerja, dan di setiap pengalaman yang membentuk manusia menjadi lebih utuh.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatSumba.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


