Namun, ada sesuatu yang jauh lebih penting: kemampuan menghadapi kenyataan.
Di luar ruang kelas, teori dipertemukan dengan situasi nyata. Seseorang belajar bahwa kegagalan bukan angka merah yang bisa diperbaiki melalui remedial, melainkan bagian dari proses bertumbuh.
Pandangan ini sesungguhnya telah lama hadir dalam pemikiran pendidikan Indonesia. Ki Hajar Dewantara pernah mengatakan, “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.”
Kalimat itu mengandung pesan sederhana: pendidikan tidak boleh dimonopoli oleh institusi formal.
Ketika sekolah ditempatkan sebagai satu-satunya sumber ilmu, tanpa sadar kita ikut mempersempit definisi tentang kecerdasan. Pintar akhirnya diukur dari nilai tinggi, peringkat kelas, atau kemampuan menjawab soal.
Padahal kehidupan tidak menyediakan lembar jawaban.
Pelita ilmu sering kali menyala di tempat-tempat yang sederhana. Kita belajar kreativitas dari mekanik di bengkel, belajar ketekunan dari pengrajin mebel, dan belajar keberanian dari mereka yang mampu bangkit setelah mengalami kegagalan.
Mereka mungkin tidak memiliki gelar akademik tinggi, tetapi memiliki kecerdasan hidup yang tidak selalu tercatat dalam sistem.
Sayangnya, tekanan akademik hari ini justru semakin memperkuat anggapan bahwa nilai menentukan masa depan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatSumba.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


