Oleh: Angela Marici Bulu, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Weetebula
DI tengah perubahan kurikulum yang terus terjadi dari waktu ke waktu, ada satu keyakinan yang diam-diam tumbuh kuat di masyarakat: sekolah dianggap sebagai satu-satunya tempat yang sah untuk belajar.
Akibatnya, pendidikan perlahan mengalami penyempitan makna. Belajar seolah hanya terjadi ketika seseorang mengenakan seragam, duduk di ruang kelas, mencatat pelajaran, lalu mengikuti ujian.
Padahal pendidikan tidak pernah sesempit itu.
Pada hakikatnya, belajar adalah proses manusia membangun pengetahuan, membentuk cara berpikir, dan menempa karakter untuk menghadapi kehidupan. Sekolah memang menjadi salah satu jalur penting dalam proses tersebut, tetapi bukan satu-satunya ruang tempat ilmu tumbuh.
Banyak pelajaran paling berharga justru lahir di luar pagar sekolah.
Seorang anak yang membantu orang tuanya di ladang sedang belajar tentang disiplin dan tanggung jawab. Anak yang mencoba berjualan lalu mengalami kerugian sedang belajar memahami risiko. Anak yang mempelajari keterampilan baru melalui internet sedang melatih kemampuan mencari dan mengolah informasi.
Tidak ada rapor dari pengalaman-pengalaman itu. Tidak ada sertifikat atau nilai akhir.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatSumba.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
