Sekolah perlahan berubah menjadi arena persaingan prestasi. Anak-anak didorong mengejar angka, sementara rasa ingin tahu, keberanian mencoba, dan ruang untuk gagal semakin sempit.
Kritik terhadap kondisi ini pernah disampaikan oleh Ivan Illich. Menurutnya, sistem sekolah yang terlalu terstruktur dapat membuat masyarakat percaya bahwa belajar hanya sah jika berlangsung dalam ruang formal.
Ketika itu terjadi, rasa ingin tahu yang alami perlahan digantikan oleh ketakutan untuk salah.
Dampaknya terlihat nyata.
Tidak sedikit lulusan dengan prestasi akademik tinggi yang kebingungan menghadapi dunia kerja dan persoalan kehidupan. Mereka terbiasa mengikuti petunjuk, tetapi kesulitan mengambil keputusan sendiri. Mereka terbiasa mencari jawaban benar, tetapi tidak terbiasa menciptakan solusi.
Lebih jauh lagi, budaya yang terlalu memuja pendidikan formal sering kali melahirkan stigma terhadap anak-anak yang putus sekolah.
Padahal, siapa yang dapat memastikan bahwa pelita mereka telah padam?
Bisa jadi mereka sedang menyalakan cahaya itu di tempat lain di bengkel, di sawah, di ruang kreatif, atau di depan layar komputer sambil membangun kemampuan yang tidak diajarkan di sekolah.
Albert Einstein pernah mengatakan bahwa pendidikan adalah sesuatu yang tersisa setelah seseorang melupakan apa yang dipelajarinya di sekolah.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatSumba.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
