Atlet Taekwondo SBD Borong 31 Medali di Sumba Timur, Orangtua Rela Patungan karena Minim Dukungan

Sebanyak 31 atlet dari Dojang SMPN 1 Kota Tambolaka sukses membawa pulang puluhan medali ke Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD)
Sebanyak 31 atlet dari Dojang SMPN 1 Kota Tambolaka sukses membawa pulang puluhan medali ke Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD). (Foto: Dok. Istimewa/RakyatSumba.ID)
  • Bagikan

Tambolaka, RakyatSumba.ID – Prestasi membanggakan berhasil ditorehkan Kontingen Bela Diri Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) dalam kejuaraan taekwondo yang digelar di kantor daerah Kabupaten Sumba Timur.

Sebanyak 31 atlet dari Dojang SMPN 1 Kota Tambolaka sukses membawa pulang puluhan medali, meski harus berangkat dengan biaya mandiri dari para orangtua atlet.

Baca Juga:
Link Nonton Spanyol vs Belgia Hari Ini, Duel Panas Perempatfinal Piala Dunia 2026 Live TVRI dan Maxstream

Sabam Taekwondo SBD, Alexander Roninson Kale, mengatakan para atlet berhasil meraih 8 medali emas, 12 medali perak, dan 11 medali perunggu.

Tak hanya itu, tiga atlet juga berhasil menyabet gelar juara umum dalam kejuaraan tersebut.

“Yang ikut semua dari Dojang SMPN 1 Kota Tambolaka. Kami bersyukur anak-anak bisa tampil maksimal dan membawa pulang banyak medali,” katanya belum lama ini.

Namun di balik prestasi tersebut, tersimpan kisah perjuangan dan keterbatasan yang dialami para atlet dan pelatih.

Alexander mengungkapkan hingga saat ini pihaknya belum mendapat dukungan nyata dari Pemerintah Kabupaten SBD, meski proposal bantuan telah disampaikan jauh sebelum kegiatan berlangsung.

“Kami sudah masukkan proposal tiga minggu sebelum kegiatan melalui bagian umum dan katanya sudah didisposisi bupati ke Dispora. Tapi ketika kami cek di Dispora, jawabannya belum ada perintah langsung dari bupati,” ujarnya.

Ia mengaku sempat bingung karena cabang olahraga lain tetap berjalan dan mendapat perhatian, sementara taekwondo justru kesulitan mencari dukungan untuk mengikuti pertandingan.

Bahkan menjelang penutupan pendaftaran pada 7 Mei 2026, pihaknya hampir membatalkan keberangkatan karena keterbatasan anggaran.

“Sempat gelisah dan berpikir tidak ikut karena biaya sangat terbatas. Tapi semangat anak-anak luar biasa,” katanya.

Akhirnya, para orangtua atlet sepakat menanggung seluruh kebutuhan secara swadaya, mulai dari biaya transportasi, makan, minum hingga penginapan.

“Kami pelatih hanya diminta mendampingi anak-anak. Semua biaya ditanggung orangtua,” ungkap Alexander.

Ia juga menceritakan perjuangan mereka saat tiba di lokasi pertandingan. Hingga pukul 23.00 Wita, rombongan belum mendapatkan tempat menginap karena keterbatasan biaya.

“Kami akhirnya dapat penginapan yang murah, tapi jaraknya jauh dari lokasi pertandingan,” tuturnya.

Meski penuh keterbatasan, para atlet tetap mampu menunjukkan kemampuan terbaik mereka di arena pertandingan.

Alexander berharap Pemerintah Kabupaten SBD bisa memberi perhatian yang sama terhadap seluruh cabang olahraga, termasuk taekwondo.

“Jangan beda-bedakan cabang olahraga. Anak-anak ini sudah buktikan prestasi,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa sebelumnya tim taekwondo SBD pernah menyumbangkan medali dalam berbagai kejuaraan, termasuk Andaluri Cup III.

“Di Andaluri Cup III kami kirim 15 atlet dan bawa pulang 14 medali, terdiri dari 5 emas, 5 perak, dan 4 perunggu. Tapi kami pulang biasa-biasa saja,” ujarnya.

Menurutnya, keterbatasan peralatan latihan menjadi tantangan besar bagi para atlet taekwondo di SBD.

“Peralatan kami masih sangat minim. Kadang kalau mau ikut event, kami harus pikir dulu uangnya cukup atau tidak,” katanya.

Dalam waktu dekat, dirinya bersama para pelatih berencana menemui Bupati SBD, Ratu Ngadu Bonnu Wulla, guna menyampaikan langsung kondisi yang dialami atlet taekwondo di daerah tersebut.

Sementara itu, upaya konfirmasi kepada Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), John Tende, belum berhasil hingga berita ini diturunkan. (rs1)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatSumba.ID

+ Gabung

  • Bagikan
Exit mobile version